Arsip untuk Kategori 'sains'

13
Agu
08

Tahun 2030 Pulau Jawa Kehabisan Air

air akibat kerusakan lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Maraknya pengalihan fungsi lahan, tekanan politis atas kebijakan Rencana Tata Ruang dan Wilayah turut mempengaruhi kondisi ini. Demikian disampaikan Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa Kementerian Lingkungan Hidup, Sudarsono.

“Dengan jumlah penduduk sebanyak 163 juta orang dan dengan daya dukung lingkungan yang rusak maka secara terukur kekurangan air benar-benar akan terjadi,” katanya seusai berdiskusi di Kantor Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda di Bandung, Jumat.

Ia menjelaskan beberapa langkah tengah dipersiapkan dalam menghadapi krisis air tersebut diantaranya adalah melakukan perbaikan di 13 DAS di sepanjang Jawa diantaranya Brantas, Serayu, Cisanduri, Cidano dan Jatunselung.

“Kerusakan yang paling banyak terjadi terdapat di wilayah Jawa Barat dimana reboisasinya kurang berhasil sehingga kerusakan daerah aliran sungainya tidak dapat dihindari,” tutur Sudarsono.

Pengaruh penanaman pohon jati di wilayah Jawa juga ikut andil dalam berkurangnya tangkapan air di Pulau Jawa karena secara ekologis pohon jati tidak dapat menyerap air. Ia menyatakan, perbaikan di sekitar hulu secara kuantitatif, kualitatif, dan kontinuitas menjadi prioritas pembangunan saat ini.

“Pekerjaan rumah saat ini adalah melakukan reboisasi di hulu, memperluas tangkapan air, pembuatan sumur resapan, pengelolaan limbah yang berakhir pada pengendalian baku mutu air,” jelasnya. Sudarsono mengatakan kendala yang dihadapi saat ini terkait dengan lingkungan hidup adalah pembuatan aturan tentang Tata Ruang yang berlainan sejak tingkat Pusat hingga Daerah.

“Perbedaan tata ruang ini telah merusak lingkungan secara langsung sehingga seluruh tangkapan airnya berkurang akibat dialih fungsikan lahannya,” katanya.

from : kompas.com

26
Jul
08

Kehidupan Kompleks Tertunda 2 Miliar Tahun

Oksigen dan logam molibdenum mungkin dua komponen utama yang berperan dalam proses pembentukan kehidupan yang kompleks di muka Bumi. Karena kadar keduanya masih sangat rendah saat Bumi berusia muda, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak berkembang selama kurun waktu 2 miliar tahun.

Hanya bakteri yang subur di rentang waktu antara 2,5 juta tahun lalu hingga 0,5 juta tahun lalu. Organisme bersel banyak diperkirakan baru berkembang pesat sejak 0,7 miliar tahun lalu meskipun terdapat bukti-bukti sudah muncul sejak 2 miliar tahun sebelumnya.

Hal ini mungkin disebabkan kandungan molibdenum yang rendah di luatan purba karena saat itu kadar oksigen di atmosfer sangat rendah. Molibdenum merupakan bahan yang digunakan bakteri untuk proses fiksasi atau mengubah nitrogen dari sebuah gas di atmosfer menjadi senyawa yang dibutuhkan makhluk hidup.

Bakteri tidak mungkin mengolah nitrogen dengan efektif jika kadar molibdenum rendah. Jika hasil fiksasi nitrogen tidak cukup banyak, makhluk bersel banyak seperti, hewan, tumbuhan, dan manusia tak mungkin bertahan hidup. Sebab, organisme kompleks tak sanggup menyerap langsung unsur nitrogen.

“Kandungan molibdenum di laut mungkin memainkan peran utama perkembangan makhluk hidup,” ujar Timothy Lions, profesor biogeokimia dari Universitas California Riverside. Temuannya bersama mahasiswa bimbingannya, Clint Scott, dan Ariel Anbar, pakar biokimia dari Universitas Arizona, yang dimuat jurnal Nature edisi terbaru membuktikan hal tersebut.

Mereka menyuguhkan bukti keterkaitan erat antara oksigen dan molibdenum setelah mempelajari sampel batuan purba. Sampel tersebut diarutkan ke dalam cairan asam lalu kadar molibdenumnya dianalisis. Ternyata kadar molibdenum yang dihasilkan sebanding dengan kadar oksigen.

Saat ini molibdenum merupakam logam transisi paling banyak di lautan. Sumber utamanya adalah reaksi oksigen dengan mineral yang membawanya termasuk batu-batuan tadi. Peran molibdenum mirip dengan logam besi yang membantu mengikat karbon dioksida dari atmosfer ke lautan.

sumber : kompas.com maret 2008

26
Jul
08

Indonesia “Kendalikan” Siklon Tropis Durga

JAKARTA, KAMIS – Untuk pertama kalinya, Indonesia memberi nama badai atau sikon tropis yang terbentuk dekat garis khatulistiwa (ekuator). Siklon tropis Durga adalah nama yang dipilih untuk siklon yang terbentuk di perairan barat daya Bengkulu pada Rabu (23/4) pukul 07.00 WIB.

Siklon Tropis Durga terbentuk di Samudera Hindia sekitar 1.000 kilometer dari Kota Bengkulu tepatnya pada 9,2 derajat Lintang Selatan (LS) dan 95,1 Bujur Timur (BT). Saat ini, siklon beregrak ke arah timur-tenggara menjauhi wilayah Indonesia dengan kecepatan 11 kilometer perjam.

Munculnya Siklon Tropis Durga hanya berselang kurang dari sebulan sejak Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis Jakarta atau Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta resmi beroperasi pada 24 Maret 2008 bersamaan dengan Hari Meteorologi Dunia. Lembaga tersebut dibentuk Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjuk Indonesia untuk memantau dan memberikan peringatan dini terhadap badai yang terbentuk pada daerah antara 90-125 derajat Bujur Timur (BT) dan 0-10 derajat Lintang Selatan (LS).

Penamaan siklon tropis dengan nama tokoh pewayangan yang khas Indonesia merupakan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia dan tercatat dalam sejarah komunitas meteorologi dunia. Dengan sistem komunikasi yang telah terintegrasi secara global, informasi siklon tropis dari Indonesia secara cepat tersebar ke seluruh dunia. TCWC melaporkan hasil analisis secara berkala terhadap siklon tropis di sekitar Indonesia dalam situsnya.

Apalagi, siklon tropis lebih banyak terbentuk di luar wilayah tanggung jawab Indonesia meskipun dampaknya dapat mempengaruhi cuaca dan gelombang di Indonesia. Siklon tropis yang terbentuk di wilayah tanggung jawab Indonesia relatif kecil, hanya 1-2 buah per tahun. Dari catatan selama 21 tahun (1964-2005) siklon tropis di wilayah ini lebih banyak terjadi pada bulan Desember. Kejadian pada bulan April pernah terjadi 14 kali.

Siklon tropis atau juga dikenal dengan angin topan merupakan pusaran angin yang sangat kuat yang kecepatannya dapat mencapai 120 kilometer per jam atau lebih. Seperti namanya, siklon tropis terbentuk di daerah tropis dan terjadi di lautan yang hangat. Adanya siklon tropis dapat menyebabkan terjadinya hujan deras dan gelombang laut yang tinggi, pada daerah yang dilalui dan daerah di sekitarnya.

sumber : kompas.com april 2008

26
Jul
08

Menulis di “Udara” dengan Cahaya Melayang

JAKARTA, SELASA – Pernah melihat tulisan asap yang dibentuk manuver pesawat? Atau gumpalan gelembung udara yang dapat dibentuk logo dan sosok tertentu?

Semuanya sudah dapat dilakukan dan mungkin layak disebut menulis di udara. Namun, apa yang dilakukan para peneliti di Institut Teknologi Technion dan Institut Sains Weizmann, Israel jauh lebih rumit.

Jika asap pesawat atau gelembung udara hanya dapat menampilkan tulisan atau bentuk ukuran besar, “tulisan” pada benda gas kali ini berukuran jauh lebih kecil. Mereka berhasil menampilkan angka dua setinggi kurang dari 5 centimeter yang mengambang di ruang berisi uap rubidium bersuhu 52 derajat Celcius.

Bentuk angka dua jelas terlihat dengan resolusi tinggi. Angka dua menyala merah karena memang berasal dari atom-atom gas rubidium yang menyerap pulsa cahaya yang ditembakkan. Jika teknologi ini bisa dipakai pada awan di udara, logo Batman mungkin tidak hanya khayalan dan benar-benar dapat ditampilkan di udara jika warga Gotham City membutuhkan bantuan.

Namun, kondisi cahaya yang melayang di udara tersebut hanya bertahan sesaat sekitar 2 mikrodetik dan langsung kabur. Hal tersebut terjadi karena pulsa-pulsa cahaya yang ditebakkan terus-menerus membuat atom gas yang bereaksi melebur ke sekitarnya.

Pulsa cahaya pertama akan diserap atom gas yang menjadi target dan mengaktifkannya. Namun, pulsa kedua yang menumbuk atom gas yang sama menyebabkan kondisi kuantum sehingga pulsa pertama menyebar ke atom di sekitarnya. Fenomena ini disebut electromagnetically induced transparency.

Untuk memperpanjang waktunya, tim peneliti memanfaatkan metode yang meminimalkan pengaruh difusi pada atom gas rubidium. Dengan menahan pulsa cahaya kedua, atom yang bereaksi bertahan lebih lama hingga 30 mikrodetik. Masih terlalu cepat memang.

“Teknik menyimpan cahaya mungkin dapat diaplikasikan dalam perangkat-perangkat masa depan yang menyimpan informasi kuantum,” ujar Mushe Shuker, dari Technion. Perubahan informasi optis menjadi ikatan atom seperti ini sangat berguna dalam pemrosesan gambar maupun dalam teknologi komunikasi. Para ilmuwan yakin teknologi seperti suatu saat juga dapat dipakai untuk menyimpan gambar berwarna-warni atau data video.

Foton sebagai pulsa cahaya merupakan alat pengirim informasi. Sementara ikatan atom gas merupakan media penyimpan yang baik. Kombinasi keduanya merupakan impian teknologi masa depan.

sumber : kompas.com juni 2008

26
Jul
08

Bola Paling Bulat di Dunia

JAKARTA – Pepatah mengatakan bola itu bulat. Namun, di antara yang bulat pasti ada yang paling bulat. Sekelompok tim peneliti internasional yang terdiri dari insinyur berbagai negara mengklaim telah membuat bola paling bulat di dunia.

Bukan bola sepak, voli, atau bola untuk bermain yang dibuat tim Avogadro Project ini, melainkan bola yang akan diusulkan sebagai standar internasional untuk satu satuan kilogram. Bola yang punya nilai ilmiah sangat tinggi tersebut menjadi salah satu obyek pembicaraan utama dalam konferensi Instrumentasi dan Teleskop Astronomi SPIE di Perancis, pekan lalu.

Tak mudah membuatnya. Bola tersebut terbuat dari isotop silikon murni, silikon-28, yang dibuat di mesin pengayaan uranium pada fasilitas bekas pembuatan senjata nuklir di Rusia. Dari Rusia, material tersebut diangkut ke lembaga metrologi Jerman untuk disusun menjadi bola kristal. Setelah enam kali gagal, akhirnya berhasil dibuat dua bongkah kristal masing-masing seberat 5 kilogram yang kemudian dikirim ke Australia.

Dengan peralatan optik presisi, bongkahan tersebut dibentuk menjadi bulatan kristal. Masing-masing berdiameter 93,75 milimeter dan massanya sebanding dengan standar kilogram yang dimiliki Australia saat ini. Saking halusnya, tingkat kekasarannya hanya 0,3 nanometer dan beda kelengkungan di berbagai titik antara 60-70 nanometer saja.
‘Jika Anda membuatnya sebesar ukuran Bumi, kekasaran di permukaan hanya 12-15 milimeter dan variasi kelengkungannya 3-5 meter,” ujar Achim Leistner dari Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization  (CSIRO).

Bola tersebut memang disusulkan sebagai standar kilogram yang akan ditentukan berdasarkan jumlah atom silikon dalam sebuah bola kristal. Untuk menghitung volume bola digunakan interferometer optik yang akan mengukur jarak antara satu titik dan titik lainnya dari 60.000 lokasi berbeda di permukaan bola. Sementara untuk mengukur kerapatan atom digunakan kristalografi sinar-X yang sanggup melihat struktur kristal susunan atom-atom dalam bola tersebut.

Dengan mengalikan volume dan kerapatan dapat diketahui jumlah atom silikon dalam sebuah bola. Tinggal disepakati berapa jumlah atom yang menjadi standar satu kilogram.

Kilogram merupakan satu-satunya standar pengukuran yang masih ditentukan dengan obyek fisik, yakni sebuah silinder platina iridium di Sevres, Perancis, yang sudah dipakai sejak 120 tahun lalu. Namun, yang menjadi masalah massa logam tersebut lambat laun mengalami perubahan sehingga tidak sama dengan 40 duplikatnya yang disebarkan ke berbagai belahan dunia.

Kelompok ilmuwan yang peduli dengan masalah tersebut mempertimbangkan untuk mendefinisikan ulang satuan kilogram. Komite internasional untuk berat dan pengukuran (ICWM) akan memutuskan perubahan tersebut pada 2011.

sumber kompas.com 2 juli 2008